Tuesday, August 11

Menjadi Pengusaha

Eh...ada lowongan gak?" tanya seseorang pada yang lain.
"Ada, tapi kayaknya gak cocok ma "jurusan"mu" jawab yang lain
"Gak papa, itung-itung buat batu loncatan" balasnya.
Kira-kira itu sekelumit obrolan usia kerja kita sekarang. Terlebih pada kondisi sekarang, dimana dunia dalam keadaan kemelut ekonomi. Rasanya semakin sulit bagi usia kerja kita. Dan ditambah lagi dengan banyaknya pemberitaan di media, baik cetak maupun elektronik, memberitakan bahwa sejumlah perusahaan mengurangi puluhan bahkan ratusan karyawannya karena tidak ada permintaan pasar, sehingga mengakibatkan perusahaan kehilangan pendapatan.

"Sungguh, suatu pola pemikiran yang patut disayangkan. Namun apa yang dapat kita lakukan? Bukankan kita juga sedang manghamba pada sesuatu yang kita ciptakan sendiri, yaitu UANG. Hampir setiap hari kita membutuhkan uang untuk tetap "hidup", oleh karena itu hampir setiap waktu kita berpikir tentang 'bagaimana mendapatkan uang untuk hidup besok?'. Pikiran-pikiran itulah yang menyebabkan kita kehilangan kontrol emosi, dan menyebabkan kita berbuat diluar dugaan. Seperti melakukan kejahatan pada orang lain sampai melakukan kejahatan pada diri kita sendiri.

Sebenarnya apa yang salah dengan 'kita', sehingga pola pikir kita 'mencari' dan bukan 'membuat'. Dengan mencari maka kita akan 'menerima', sedangkan dengan membuat maka kita akan 'memberi'. Bukankan sering kita baca dan dengar bahwa memberi lebih baik daripada menerima atau dengan kata lain 'tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah'?. Saya yakin semua orang akan menganggukkan kepalanya pada ungkapan itu.
Sekarang ini kita tentu ingin mendapat sesuatu 'yang lebih baik'. Namun terkadang kita lupa dengan ungkapan itu, bahwa yang lebih baik adalah memberi bukan menerima. Sehingga pola pikir yang spontan muncul apabila ditawarkan pekerjaan kepada kita kata-kata yang muncul adalah 'saya digaji/dibayar berapa?

Dari sini dapat kita pelajari pola pikir usia kerja kita. Sejak dari usia sekolah, bahkan sebelumnya, kita sudah diwejangi oleh orang tua kita bahwa kita musti sekolah yang benar dan musti pintar agar kelak 'gampang cari kerja'. Atau saran yang lain sekolah di 'jurusan ini' biar besok bisa jadi 'pilot-dokter-guru-pegawai katoran- de el el'. Inilah barangkali sesuatu yang perlu kita benahi. Seandainya kita menginginkan sesuatu 'yang labih baik' tentu kita harus berpola pikir bagaimana saya bisa membuat sehingga saya akan bisa memberi

Beberapa bacaan mengungkapkan bahwa untuk 'membuat/memproduksi' itu tidak selamanya membutuhkan modal besar. Modal sendiri bagi pelaku bisnis adalah beragam. Sebagian mengatakan modal yaitu UANG, yang lain mengatakan KEMAMPUAN SDM, yang lain lagi mengatakan NIAT, bahkan ada yang mengatakan KEBERABIAN, dan mungkin ada yang mengatakan modal-modal yang lain. Tidak menutup kemungkinan dari modal besar akan menjadi bangkrut, dan tidak menutup kemungkinan dengan SDM yang handal tidak tercapai hasrat untuk menjadi 'pembuat'.

Yang perlu dipahami bahwasannya perlu suatu PERSIAPAN untuk memulai bisnis, utamanya bila kita berkeinginan menjadi 'pembuat'-bahasa kampungnya bussinesman. Dan persiapan ini menjadi lebih penting dibanding modal yang saya sebutkan di atas. Setelah persiapan ini matang, tentu kita akan 'mudah' menentukan modal yang mana yang perlu kita perkuat.

Selanjutnya bagaimana kita tahu bahwa persiapan kita sudah cukup?. Saya rasa persiapan sematang apapun jika masih dalam 'buku' atau malahan masih dalam benak tidak akan pernah terwujud. Sehingga setelah persiapan 'dirasa' cukup, maka selanjutnya adalah "MENCOBA". Muncul suatu pertanyaan 'kok coba-coba?'- ya, kita harus mencoba, karena dengan mencoba maka kita akan tahu letak dimana kekurangan dan dimana yang harus kita tingkatkan. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik?

Nah sekarang setelah kita mencoba dan mencoba maka kita akan semakin 'pandai' untuk menjadi seorang 'pembuat', baik pembuat inovasi maupun pembuat peraturan dan keputusan. Selanjutnya seiring bertambahnya usia dan usaha kita maka tidak menutup kemungkinan kita akan melibatkan orang lain atau karyawan. Dengan adanya sesuatu yang baru yang masuk dalam 'tubuh bisnis' kita, maka kita perlu merespon dan mempersiapkan, agar sesuatu yang baru tersebut tidak menyebabkan 'tubuh' kita 'sakit'. Oleh karena itu perlu adanya pengetahuan tentang KEPEMIMPINAN (Enterpreneur). Dan tentu ini akan menjadi modal selanjutnya.

Nah marilah kita ubah pola pikir kita dari yang MENCARI menjadi MEMBUAT. Dan dari yang MENERIMA menjadi yang MEMBERI. Tanamkan pada diri kita bahwa MEMBERI LEBIH BAIK DARIPADA MENERIMA, DAN TANGAN DI ATAS LEBIH BAIK DARI TANGAN DI BAWAH

Yok sama-sama BERUBAH!
Salam sukses!

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com